sebenarnya ini terjadi semalam, disaat sore itu saya ingin menjelaskan sudut pandang saya untuk menjalani hidup ini kepada kedua orang tua saya...
berikut saya akan coba gambarkan sudut pandang saya...
saya sekarang kuliah di UNRI fakultas ekonomi, setelah saya flashback dan melihat lembaran2 psikotest saya, saya baru menyadari, ini bukan jalan hidup saya, disana dijelaskan, saya memiliki kreativitas yang lumayan tinggi dan tidak suka terhadap rutinitas itu itu saja maupun hapalan. dan saya coba ingat2 lagi ketika saya memilih perkuliahan yg akan saya ambil, saya dulu pernah berniat sekolah di ITB jurusan IT, lumayan imposible sih bagi anak riau untuk memasuki kampus yg akreditasinya paling tinggi itu, tapi saya pernah buktikan sama orang tua saya dengan jadi perwakilan sekolah untuk mengikuti perlombaan olimpiade IT se pekanbaru, ayah saya tidak melarang saya untuk menggeluti IT dan juga tidak terlalu mensuport saya, ditambah lagi ketika mama saya menekankan pada saya untuk tidak kuliah diluar dari pekanbaru, alasannya jelas karna saya anak satu satunya, tapi ini akan menghambat kedewasaan saya seperti yang saya rasakan saat ini. dan semenjak itu ayah saya selalu berpesan untuk jangan terlalu mendalami IT jadikan saja itu hobby, oke saya terima.
Ayah saya juga sering mengingatkan saya untuk mencontoh bang Juju, bg Juju adalah saudara sepupu saya, dia sosok yang lumayan patut dicontoh, karna taatnya pada agama maupun sikap dan sopan santunnya yang lumayan baik. ketika saya tamat SMA, tanpa pikir panjang saya langsung memantapkan pilihan kuliah di tempat bg Juju, dan saya akan coba meniru langkahnya, selaian mendapatkan contoh yang baik, saya juga mencoba kuliah sesuai keinginan orang tua saya. sebenarnya, kalau saja saya lebih cinta terhadap Akutansi yg yang baru saya ketahui pada saat kuliah mungkin saya tidak akan belajar apa adanya, ya belajar hanya untuk mencapai nilai standart agar ga memalukan orang tua, dan tidak terlalu memaksakan diri tuk mendapat nilai lebih...
oke, lanjut ke masalah sudut pandang saya tadi, sekarang saya baru tersadar, apakah setelah tamat nanti saya akan langsng mendapatkan pekerjaan? dan saya mencoba mempersiapkan diri untuk memasuki dunia pekerjaan yang telah dijalani seperti bg Juju, ya bisa dibilang panutan saya, dan saya pernah mencoba merasakan berada diposisinya saat ini, mungkin dia bahagia dengan hasil yg telah didapatnya, tapi saya?, jika saya diposisinya saat saya tidak akan merasakan kebahagiaan, ya itu yg saya rasakan,,,
dulu guru SMA saya pernah berkata " semakin tinggi usiamu, semakin rendah cita2mu" perlahan saya mulai merasakan kata2 itu benar, impian2 yang tinggi diwaktu kita masih kecil dulu lama kelamaan menjadi rendah. hingga dapt kita raih dengan berbaring dikamar, bukan dengan moncoba melopat lebih tinggi untuk meraihnya.
tapi yang saya rasakan sekarang malah bertolak belakang dari yang dikatakan guru saya, cita cita saya saat ini ialah, bekerja keras dan mencapai kesuksesan pada saat umur 35 tahun, dengan kata lain umur 40 tahun saya sudah tidak bekerja lagi dan itu sudah termasuk memiliki biaya anak saya untuk sampai kuliah dan melakukan umroh dengan orang tua saya sebelum umur 30, kenapa umroh? karna insyaAllah ayah dan mama saya akan naik hajji tahun depan. kembali ke impian saya itu belum cukup, impian saya yang lainnya adalah keliling dunia dengan keluarga saya nanti terutama mekkah.
jika saya mengikuti alur2 yang sudah ada sekarang ini, mungkin yg dikatakan guru SMA itu benar, saya akan membuang mimpi ini jauh2, dan kata2 itu terlontar bukan untuk merendahkan cita2 muridnya, tapi menurut saya itulah yang dirasakan oleh hampir semua guru di indonesia. tapi saya merasakan ada peluang untuk mencapai impian saya itu, yaitu dengan berbisnis sebelum tamat kuliah, konsep bisnis didalam otak saya telah saya curahkan beberapa waktu lalu di 4-5 lembar kertas, saya yakin belum ada yang membuat konsep seperti ini, yang menjadi masalah bagi saya adalah, MODAL.
orang tua saya bukanlah orang yang kaya tapi beliau juga bukan orang yang kurang mampu yang mengharapkan beberapa kilo beras disaat hari raya, bukanlah hal yang susah bagi mereka untuk mencairkan modal yang saya pinta, bahkan untuk meyakinkan mereka saya mengatakan agar ayah untuk meminjam uang dikantor dan saya akan berusaha menyicilnya setiap bulan, tapi mereka masih belum percaya terhadap kemampuan saya, dan beliau lah yang mungkin masih menyegel rubah ekor 9 yg masih tertidur pulas didalam diri saya.
berikut sedikit perdebatan saya dengan mereka:
saya: yah, mico minta modal sama ayah, mico mau buka usaha
ayah: ga kan terhandle sama kamu, berat tu, kamu ga pandai ngatur waktu,
saya: bang juju juga mau join investasi 30jt buat usaha ni yah,
Ayah: yaudah pakai duit bg juju aja
saya: pembagian labanya kecil jadinya yah, makana asset mico juga harus ada disana.
Ayah: ga kan bisa kamu, cepat aja lah tamat kuliah dulu.
saya: yah, skripsi ga menjamin orang untuk mendapatkan pekerjaan, mico sekarang merasakan ada peluang bisnis.
ayah: APA? jadi menurut kamu kuliah ga penting? atau jangan2 kamu udah ga sanggup untuk menyelesaikan skripsi? ayah ga tau lagi apa yang ada di otak kamu.
saya: kalau mico ga sanggup ga mungkin makul metodologi peneilitian mqo yg membikin skripsi sampai bab 3 dapat A. (mqo ga yakin bisa membahagiakan ayah waktu tamat kuliah nanti *dalam hati*)
mama: pikiran siapa yg udah merasuki kamu samapi bilang ga penting kuliah??
saya: mico tau mama mau yang terbaik buat mico, sekarang andai mico tamat, trus mama mau mico dimana?
mama: lanjut s2
saya: klo udah tamat s2?
mama: lanjut s3
saya: klo dah tamat s3?
mama: *diam sejenak* ngajar, jadi dosen...
**sesederhana itukah???**
saya: itu yang mama suka? itu yang bikin mama bahagia? mama pernah ga bertanya kalau dengan menjadi dosen hidup mico bahagia ato ga walaupun dengan penghasian yang mapan?
mico mau membahagiakan mama dengan cara mico sendiri ma...
***saya menyadari kekhawatiran mama terhadap pilihan saya untuk membuka usaha, karna dulu mama pernah berkata," kamu jangan cepat2 kerja nanti cepat nikah" , dan hanya itu yang terpikir oleh alam bawah sadar mamah karena itu terjadi hampir pada setiap orang yang ada dikampung saya, kalau mereka telah bekerja, mereka menikah, dan abg sepupu saya di kampung telah menikah 2 tahun yang lalau padahal usianya 1 tahun diatas saya, yang saya ga habis pikir, mama masih tersugesti dengan prinsip kampung sepert ini.***
*mama melanjutkan omelannya hingga adzan magrib, dan malanjutkan lagi pada saat selesai magrib*
saya hanya bisa mengunci pintu kamar dan mengurung diri, saat itu saya baru teringat pada janji saya dengan adek saya, teman SMA dulu sih, rhini namanya, tapi udah saya anggap jadi adik kandung saya sendiri, kami berniat akan melakukan shalat tasbih, dan entah karna aura apa setelah saya melakukan shalat tasbih suasana diluar kamar menjadi hening setelah sekian lama mendengar suara ledakan2 yang masuk dari fentilasi kamar saya. yang jelas, setelah solat tasbih, hati terasa lebih lepang dan suasana lebih tenang, peace of heart coba deh..
saya masih belum tau bagaimana sudut pandang orang tua saya saat ini, apakah mereka telah mengerti atau belum. Dan saya hanya berharap mereka mengerti dengan sudut pandang saya saat ini...
maavkan aku yah, mah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar