Minggu, 22 Januari 2012

secerca cerita di taluk

semenjak hari sabtu kemarin saya ditaluk kuantan, tujuannya menjenguk datuk sekalian berlibur, dan liburan kali ini lumayan seru, karna di taluk lagi musim ikan mudiak, dimana pada saat musim itu para nelayan tidak perlu menggunakan trik khusus ataupun umpan untuk menanggap ikan, cukup dengan menghayutkan jaring yang disebur dengan menjariang ikan - ikan unyu akan mudah di tangkap, dan konon ikan yang banyak itu berasal dari mudik, makanya disebut ikan mudiak, nah, sedikit sial, pas saya disana, ternyata musim ikan itu akan habis, musim ikan itu habis dengen di tandai berkurangnya hasil tangkapan setiap menghilirkan jaring, ataupun salah satu dari nelayan mendapatkan ikan rajo buntili ikan tersebut disinyalir menandakan habisnya musim ikan mudiak, karna orang sana mengatakan dengan mudah "iyalah habis ikan mudiak tu, udah rajanya yang datang", dan saya tidak percaya dengan hal seperti ini. Nah dengan sialnya lagi, saya orang pertama yang mendapatkan ikan tersebut, saya ga tau mau bahagia atau memasang wajah murung. Biasanya setiap kali hilir mereka mendapatkan puluhan ikan, dan jika ingin menghilirkan jaring harus ngantri dulu, tapi karna musimnya telah babis, mereka hanya mendapatkan 5 ekor yah paling banter dapat 10 ekor, dan saya mendapatkan, 1 ekor.

perhatikan lingkaran merah






















tapi semangat saya tidak padam dan akhirnya dengan berjuang keras dengan beberapa kali hilir, akhirnya saya mendapatkan saya mendapatkan 3 ekor ikan dalam waktu sekali hilir, dan salah seorang nelayan betanya, "berapa dapat ko?" | "3 ekor bang" | "wah bagus tu, 100 kali hilir udah lumayan banyak kan?" |  "yeaaaah". Щ(¯̩̩̩Д¯̩̩̩щ)

noh, 3 ekor kan























5 menit setelah pengambilan gambar *ngambang di sungai*

banyak yang mensuport saya untuk mendapatkan ikan, terutama adek2 sepupu, riwa yori dan angga, yang selalu siap mengumpulkan ikan yang saya tangkap, yang sebagian bisa dijual kepasar. *jangan tanya jumlah ikan yang didapat berapa**anggap saja tangkapan saya banyak**buat hati saya senang dikit ngapa*

yori dan riwa tampak belakang, karna mereka malu
Angga

beberapa nelayan yang berteduh disaat terik, dan ini kesempatan saya buat menjaring lebih sering

dan menjariang disiang hari dapat membuat badan meriang diamalam hari, katanya karna saya terlalau semangat dia air dari pagi sampai tengah hari, hmmm..
Setelah malamnya ga bisa kemana2 akhirnya saya curhat dengan datuk, minta di ceritain masa muda datuk dulu gimana, dan ternyata datuk dulu pleyboy inilah yang meyakinkan saya karma itu berlaku, kalau ga ke anak ya kecucunya yang masih jomblo hingga sekarang, hueee.
tapi ada satu hal yang saya salut sama datuk, dulu waktu pedekatenya datuk cerita, beliau pertama kali ketemu nenek di jalan setapak mau ke sungai, dan semenjak pandangan pertama itu datuk selalu berharap bertemu denan nenek, dan akhirnya datuk kayak psiko gitu, buntuti nenek yang mau ke sungai, setelah yakin nenek yang kasungai datuk menunggu nenek pulang di depan gang jalan setapak, seolah2 pertemuan itu tanpa sengaja, acieee, tuk2. dan penantian itu berakhir, datuk bertemu lagi di jalan setapak itu dengan nenek dan nenek yang saat itu emmbawa guci aer minum, langsung tekejut melihat datuk yang tatapannya tajam kayak mo makan nenek, akhirnya guci itu jatuh dan nenek lari terbirit2 dengan jalan memutar, muahahahaaa, parah datuk asli..
usut punya usut ternyata nenek juga ada hati sama datuk dan pada saat datuk melamar nenek dengan menghadap ke orang tua nenek, datuk diterima deh, ahahahaa, *prok prok*
tapi sebelum dengan nenek cewek datuk banyak, parah2..
Nenek meninggal pada saat mama berusia 6 tahun, nenek meninggal karna sakit perut biasa, yang saya analisa dari cerita datuk itu seperti tumor, dan sayangnya nenek ga mau di operasi karna udah terlalu ga kuat menahan rasa sakit kata datuk. dan datuk bercerita mantan2nya mulai dari yang paling kaya, yang paling cantik, hingga yang paling parah, dan kata datuk, nenek yang paling baik hatinya. kreenn, dan aku yakin nenek memang paling baik hatinya, itu tercermin dari sifat mama.
dengan sedikit flu dan sedikit meriang dan masih terngiang ajakan bang juju untuk pergi kebukit naang besok pagi yang sepertinya saya ga bisa ikut, karna saya berangkat ke pekanbaru besok, akhirnya saya ikhlaskan mendengarkan cerita datuk yang saya lihat beliau kembali bersemangat seperti muda dulu pada saat bercerita masa mudanya dulu, semoga cerita datuk malam itu dapat menjadi inspirasi bagi saya dan pembaca semua, mueheheheheee...
wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar